Waspada! Bahan Bakar Etanol Bisa Jadi "Pedang Bermata Dua" Bagi Mesin Kendaraan Anda, Ini Penjelasannya
Pernahkah Anda membayangkan
kendaraan kesayangan yang biasanya prima tiba-tiba sering mogok atau tarikannya
terasa "mbrebet" tanpa alasan jelas? Banyak pemilik kendaraan di
Indonesia mulai beralih ke bahan bakar campuran bioetanol karena janji emisi
yang lebih bersih dan performa oktan yang lebih tinggi.
Namun, di balik manfaat
lingkungannya, ada risiko besar yang seringkali terlambat disadari hingga
kerusakan sistem pembakaran sudah terlanjur parah. Memutuskan untuk asal isi
tanpa memahami kecocokan mesin bisa menjadi penyesalan di kemudian hari saat tagihan
bengkel membengkak jutaan rupiah.
Sebelum komponen internal mesin Anda
mengalami korosi atau kebocoran seal yang tidak perlu, memahami
karakteristik kimiawi etanol adalah langkah krusial untuk memastikan investasi
otomotif Anda tetap awet hingga bertahun-tahun mendatang. Jangan sampai niat
hati ingin gaya hidup "hijau", malah berakhir dengan mesin yang mati
total.
Memahami Sifat Etanol:
Mengapa Dia Berbeda dengan Bensin Murni?
Etanol pada dasarnya adalah alkohol
yang diproduksi dari fermentasi bahan nabati. Dalam dunia otomotif, ia dipuja
karena mampu meningkatkan angka oktan secara alami. Namun, ada satu sifat dasar
etanol yang sering menjadi musuh tersembunyi bagi mekanik: sifat higroskopis.
Apa itu higroskopis? Bayangkan
etanol seperti spons mini yang sangat haus. Ia memiliki kemampuan alami untuk
menarik dan mengikat uap air dari udara di sekitarnya. Di iklim Indonesia yang
kelembapannya tinggi, sifat ini menjadi tantangan serius. Ketika bensin
campuran etanol didiamkan terlalu lama di dalam tangki, ia akan menyerap air
hingga mencapai titik jenuh.
Analogi sederhananya seperti segelas
es kopi yang didiamkan lama; air akan mulai memisah dan turun ke bawah. Dalam
tangki bahan bakar, fenomena ini disebut phase separation. Lapisan air
dan etanol yang mengendap di dasar tangki inilah yang pertama kali akan
tersedot oleh pompa bahan bakar menuju ruang bakar, menyebabkan mesin sulit
menyala atau bahkan mati mendadak.
|
| Jangan abaikan selang bensin yang mulai pecah-pecah! Komponen karet pada kendaraan tua seringkali tidak kuat menahan sifat keras dari campuran alkohol. |
Dampak Korosi Bahan Bakar
Bioetanol pada Komponen Logam
Masalah tidak berhenti pada air
saja. Etanol memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi dibandingkan bensin
murni. Ketika etanol bercampur dengan air yang diserapnya, ia menciptakan
lingkungan yang sangat korosif di dalam sistem bahan bakar.
Komponen logam seperti bagian dalam
tangki bensin, karburator (pada motor tua), hingga jalur pipa bahan bakar
adalah sasaran empuk. Korosi atau karat ini jika dibiarkan akan mengelupas dan
menjadi serpihan halus.
Serpihan karat inilah yang sering
kali menyumbat filter bensin atau lubang injector yang sangat
kecil. Jika suplai bensin tersumbat, mesin akan kehilangan tenaga di saat-saat
krusial, misalnya saat Anda sedang menyalip kendaraan lain di jalan raya.
Risiko Biofuel bagi
Pengguna Mesin Tua dan Klasik
Bagi Anda pecinta mobil retro atau
motor "besi tua", kewaspadaan harus ditingkatkan dua kali lipat.
Mesin-mesin produksi tahun 90-an ke bawah tidak dirancang untuk bersentuhan
dengan alkohol. Di era itu, produsen otomotif masih banyak menggunakan material
karet alam dan plastik tertentu pada seal, selang bensin, dan gasket.
Etanol bertindak sebagai pelarut
yang agresif terhadap material-material tersebut. Paparan jangka panjang akan
membuat komponen karet menjadi keras, getas, dan akhirnya pecah (retak).
Kebocoran bahan bakar di area mesin bukan hanya merusak performa, tetapi juga
menjadi risiko keselamatan yang sangat tinggi karena potensi kebakaran.
Kendaraan modern berlabel Flex-Fuel
sudah menggunakan material sintetis yang tahan terhadap sifat korosif alkohol,
namun kendaraan lama jelas tidak memiliki "perisai" tersebut.
Efek Higroskopis Etanol
dan Masalah pada Ruang Bakar
Selain korosi fisik, campuran air
dan etanol juga mengganggu kualitas pembakaran. Air tidak bisa terbakar. Ketika
campuran "kotor" ini masuk ke ruang bakar, suhu pembakaran menjadi
tidak stabil. Hal ini seringkali memicu gejala knocking atau ngelitik.
Dalam jangka panjang, pembakaran
yang tidak sempurna ini meninggalkan deposit karbon yang lebih keras pada
kepala piston dan katup.
Jika Anda merasa motor atau mobil
Anda harus sering melakukan tune-up atau gurah mesin lebih sering dari
biasanya setelah berpindah ke bahan bakar bioetanol, mungkin itulah pertanda
bahwa sistem pembakaran Anda sedang berjuang melawan residu air dan alkohol
tersebut.
Tips Pencegahan Agar Mesin
Tetap Sehat
Bukan berarti kita harus anti dengan
bioetanol, namun kita perlu lebih bijak dalam pemakaiannya. Berikut beberapa
tips praktis:
-
Jangan Biarkan Tangki
Kosong: Ruang
kosong di tangki adalah
tempat berkumpulnya uap air. Usahakan tangki selalu terisi penuh jika
kendaraan akan diparkir lama.
-
Gunakan Stabilizer Bahan
Bakar: Jika
kendaraan jarang dipakai
(hobi), gunakan cairan aditif khusus yang dapat mengikat air dan menjaga
kestabilan bensin.
-
Cek Rutin Selang Bensin: Terutama untuk kendaraan di
atas usia 10 tahun, pastikan tidak ada rembesan atau retakan halus pada
jalur bahan bakar.
-
Kuras Tangki Secara
Berkala:
Melakukan pengurasan tangki
setahun sekali bisa meminimalkan penumpukan endapan air di dasar tangki.
Menjaga Warisan Otomotif
Kita
Pada akhirnya, teknologi bahan bakar
akan terus berkembang menuju arah yang lebih ramah lingkungan. Namun, sebagai
pemilik kendaraan, tanggung jawab kita adalah menyelaraskan kemajuan teknologi
tersebut dengan kondisi mesin yang kita miliki sekarang. Tidak ada salahnya
memilih bahan bakar yang lebih hijau, asalkan kita siap dengan konsekuensi
perawatan yang lebih detail.
Jangan sampai rasa penyesalan datang
saat komponen langka pada mobil klasik Anda hancur hanya karena kekurangpahaman
kita terhadap karakter bahan bakar.
Merawat mesin bukan hanya soal ganti
oli tepat waktu, tapi juga tentang memahami apa yang masuk ke dalam
"perut" kendaraan Anda. Mari lebih peduli, agar kendaraan kita tetap
bisa menemani perjalanan hingga masa depan nanti.
1. Apakah semua mobil modern aman menggunakan bioetanol?
2. Apa tanda utama jika bensin di tangki sudah terkontaminasi air akibat etanol?
3. Apakah mencampur bioetanol dengan bensin oktan tinggi bisa mengurangi risiko korosi?
4. Bagaimana cara mengetahui jika selang bensin saya tidak tahan etanol?
5. Apakah bioetanol bisa membersihkan mesin?
📖 Lihat Sumber Informasi dan Gambar
02. Ethanol and its Effects on Engines - Bell Performance
03. Benarkah BBM dengan Etanol Bikin Mesin Bermasalah? Ini Penjelasan Ahli - Kompas Otomotif Referensi Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan teknologi AI.

.webp)
.webp)
